Tampilkan postingan dengan label Karya Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 April 2013

Cerpen Robohnya Surau Kami karya AA Navis



Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.

Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengansegala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

Sebagai penajag surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasihdan sedikit senyum.

Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.

Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi.

Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.

Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek, "Pisau siapa, Kek?"

"Ajo Sidi."

"Ajo Sidi?"

Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.

Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi. "Apa ceritanya, Kek?"


"Siapa?"

"Ajo Sidi."

"Kurang ajar dia," Kakek menjawab.

"Kenapa?"

"Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggorokannya."

"Kakek marah?"

"Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal."

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, "Bagaimana katanya, Kek?"

Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, "Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?"

Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.

"Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku bila aku terkejut. Masya Allah kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk."

Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, "Ia katakan Kakek begitu, Kek?"

"Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya."

Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.

"Pada suatu waktu, ‘kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seirang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’. Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.

Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.

‘Engkau?’

‘Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.’

‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.’

‘Ya, Tuhanku.’

‘apa kerjamu di dunia?’

‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’

‘Lain?’

‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’

‘Lain.’

‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’

‘Lain?’

Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum di katakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.

‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.

‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.

Tapi Tuhan bertanya lagi: ‘Tak ada lagi?’

‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.’

‘Lain?’

‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu.’

‘Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?’

‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’

‘Masuk kamu.’

Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.

Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.

‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian, ‘Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.’

‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang diantaranya.

‘Ini sungguh tidak adil.’

‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.

‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’

‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’

‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.

‘Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.

‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.

‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.

‘Itu tergantung kepada keadaan,’ kata Haji Saleh. ‘Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.’

‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita perolah,’ sebuah suara menyela.

‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.

Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan.

Dan Tuhan bertanya, ‘Kalian mau apa?’

Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu,mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.’

‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.

‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’

‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’

‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’

‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?’

‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.

‘Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?’

‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’

‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’

‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’

‘Negeri yang lama diperbudak negeri lain?’

‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’

‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’

‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’

‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’

‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’

‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’

‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’

‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?’

‘Ada, Tuhanku.’

‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!"

Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.

‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh.

‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.’

Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek.

Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.

"Siapa yang meninggal?" tanyaku kagut.

"Kakek."

"Kakek?"

"Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur."

"Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.

Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.

"Ia sudah pergi," jawab istri Ajo Sidi.

"Tidak ia tahu Kakek meninggal?"

"Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis."

"Dan sekarang," tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, "dan sekarang kemana dia?"

"Kerja."

"Kerja?" tanyaku mengulangi hampa.

"Ya, dia pergi kerja."

Rabu, 27 Maret 2013

SINOPSIS CERPEN BULAN DI ATAS KAMPUNG KARYA SGA DALAM LAKI-LAKI YANG KAWIN DENGAN PERI CERPEN PILIHAN KOMPAS TAHUN 1995 HALAMAN 112-119



            Dalam cerpen itu mengisahkan mengenai seorang anak yang bingung mencari jati diri ayahnya yang selalu memberi warna dalam hidupnya, karena ibinya tidak pernah memberi penjelasan yang masuk akal tentang keberadaan ayahnya. dalam suasana dini hari ketika Nano akan pulang ke rumah dalam keadaan setengah tak sadar karena ia mabuk. Ia berjalan menyusuri gang-gang dalam kampungnya yang bernamakan gang dengan kata-kata yang jorok. Dalam perjalanan pulangnya itu dibawah cahaya  bulan mengubah keadaan menjadi sangat mempesona. Dalm ketaksadaran itu Nano teringat akan bapaknya dan ibunya. Dalam bak truk yang tiba-tiba berubah menjadi sebuah panggung terbuka Nano meihat ibunya menari dengan celana pendek dan BH berjurai-jurai dengan seekor ular. Ular itu menjilat-jilat pipi ibunya, menciumi  ibunya.
            Ibu Nano yang lekat dengan kehidupan malam, suatu ketika ia mengatakan pad Nano bahwa ayahnya itu seorang bajingan. Kata-kata seperti itu sudah dikenalkan oleh ibunya waktu masih kecil. Isti teman Nano pernah melihat ibu Nano menari tanpa pakaian, namun hanya ditutupi oleh ular yang melilit tubuh ibunya.
Sesampai di depan rumah dalam sinar rembulan yang samar-samar , ia melewati kamar ibunya karena korden kamar ibunya terbuka terkena tiupan angin, di dalam kamar ia melihat ibunya berkeringat dan baian-bagian tubnhnya terlihat Nano. Kemudian Nano menuju dapur, dilihatnya sebuah pisau yang baru digunakan untuk memotong semangka.
            Di dalam kamar itu ibunya tidur dengan laki-laki, dan Nano selalu ingat perkataan ibunya bahwa ayahnya goblok. Nano mengangkat pisau itu tinggi-tinggi, kemudian listrik mati. Di meja rias ibunya terdapat seekor ular melingkar dengan tengnya.
           

Kamis, 28 Februari 2013

HANTU RUMAH KOSONG



Suatu hari hiduplah sebuah keluarga yang bertempat tinggal di Kota Malang, ya Bapak Sungkono, ibu Tien dan kedua putranya yakni Galih (10 th) dan Rama (5 th). Pada tahun 2003, Bpk Sungkono mendapat surat pindah tugas ke Bogor. Ibu Tien beserta anaknya mau tidak mau juga harus mengikuti jejak ayahnya.
Bapak Sungkono              : “Ibu, Bapak ini dapat tugas dari pemda untuk pindah tugas di kota Bogor”.
Ibu Tien                                                :”Kita harus pindah lagi Pak? Gimana dengan anak-anak yang masih kecil ini?”
Bapak Sungkono              :”Ya gimana lagi, anak-anak juga harus ikut kita, bapak heran Bu. Baru kerja        sebentar saja sudah dimutasi lagi”.
Ibu Tien                                :”Bagaimanapun, dan apapun yang terjadi kita harus menerima dengan ikhlas Pak. Karena ini juga merupakan tugas Negara”.
Galih dan Rama                 : Papa… mama…. Sedang bahas apa Pa? Ma?
Bapak Sungkono              :”Kita pindah ke Bogor nak, karena Bapak pindah kerja. Besok kita berkemas-kemas pergi ke Bogor”.
Galih dan Rama                 :”iya Pa, Ma… (sambil berlarian menuju kamar)


Pada malam itu keluarga Bapak Sungkono berkemas-kemas menyiapkan segala sesuatunya untuk pindahan ke Kota Bogor. Bapak Sungkono menyuruh pembantu untuk membersihkan rumahnya setiap pagi dan sore hari selepas ditinggal pergi ke kota Bogor.
Bapak Sungkono              : “Bibi, nanti tiap pagi dan sore hari rumah ini harus dibersihkan ya”?
Bibi                                         :”Ya pak, seluruh ruangan nanti akan saya bersihkan”.
Bapak Sungkono              : “Baik, nanti untuk gajimu akan saya transfer melalui rekening bank saja. Kalau Bibi takut sendirian boleh ngajak orang untuk menemani. Bahkan kalau tidak berani tidur di rumah, Bibi boleh pulang ke rumah Bibi sendiri”.
Bibi                                         :”Ya pak, mungkin saya tidur di rumah saya sendiri karena rumah ini terlalu besar”.

10 tahun kemudian, Galih dan Rama Sudah besar. Galih berusia 20 th dan Rama berusia 15 th. Galih akhirnya melanjutkan kuliah di Universitas Malang. Daripada ngekos sendiri, Galih berinisiatif untuk menempati rumahnya yang cukup besar. Mungkin dia merasa sudah lama tidak menempati rumah tersebut.
Galih                                      :”Bapak, saya izin untuk menempati rumah yang ada di Malang ya?’
Bapak Sungkono              :”Iya, tidak apa-apa, malah lebih bagus karena sudah lama tidak ditempati, nanti                                               kamu minta tolong bibi untuk menyiapkan tempat tidur kamu”.
Galih                                      :”Iya Pak, Galih minta doanya supaya bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu”.
Bapak Sungkono              :”Tentu, doa bapak ibu selalu ada dalam diri kamu nak”.

                Esok hari, Galih berangkat menuju ke Malang, iya kota apel julukannya. Di sana Galih memperoleh suasana baru, teman baru, lingkungan baru, bahkan menempati rumah yang sudah lama tidak ditempatinya. Usai sampai di Malang, tepatnya di rumah. Memori Galih teringat betul ketika masih jadi anak kecil. Bersama Rama, Galih menghabiskan waktunya bermain sepakbola di taman.
Galih                                        :”Aduh asyiknya bisa tidur di rumah sendirian. Oh iya sekarang aku hanya  ditemani  sama bibi. Enak kayaknya nie…. Hem minum dulu ah… “
Bibi                                           :”Mas Galih ini tempat tidurnya, kalau bibi tidur di sebelah sini. Nanti kalau ada apa-apa bisa panggil bibi”.
Galih                                        :”Iya bi, terima kasih banyak”.

Selang tiga hari Galih belum merasakan kejanggalan, rumah yang cukup besar berlantai 2 itu sudah 10 tahun tidak ditempati. Rumah itu dulunya terasa sepi dan senyap. Bahkan bibi tidak berani sendirian membersihkannya, karena suatu hari bibi mendengar suara perempuan menangis di sebuah kamar. Tepat tiga hari Galih telah menempati rumah t ersebut, suatu ketika Galih selesai mengerjakan tugas kuliahnya sekitar pukul 00.00 WIB.
Galih                                        :”Alhamdulilah tugas akhirnya selesai juga, jam berapa ya sekarang? Lho ternyata sudah tengah malam. Mungkin bibi sudah tidur”. (Sambil membereskan buku-bukunya, Galih berniat mengambil minum)

Namun ketika baru mengambil gelas, Galih mendengar suara perempuan menyanyi lagu Jawa di kamar kosong. Hem… hem… nanana….. ihi.. ihi.. ihi..
Galih                                      :”Suara siapa ya itu?” (sambil mencoba mendekat ke arah suara)
                                                  “Apa bibi ya? Masak jam segini bibi belum tidur sih?” (Tangan galih menggaruk-garuk punggungnya dengan rasa penasaran. Langkah demi langkah Galih terus mendekat, Galih melihat sosok tubuhnya dari belakang yang memakai gaun berwarna putih, rambutnya hitam pekat. Sambil menyisir rambut orang itu masih mendedangkan lagu Jawa. ketika tahu ada orang mendekat, sosok perempuan berambut pekat itu menoleh ke Galih).

Galih                                        :”Aghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh, ha ha ha ha ha hantu……………………………………………….. (Galih berlari tunggang langgang berusaha menuju kamarnya, sekujur badannya terasa dingin, bulu kuduknya berdiri, badannya gemetar tidak karuan. Galih menutup kamarnya dengan kencang, dia pun melihat jam dinding masih menunjukkan jam 02.00 WIB. Namun hantu tersebut ternyata berada tepat di belakang Galih).
                                                  “Aghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh (tubuhnya tak sadarkan diri)

Matahari sudah tersenyum, kokok ayam bersahutan dari berbagai arah. Bibi pun beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas untuk beraktifitas. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Bibi curiga sudah jam segini Galih belum juga keluar dari kamarnya. Bibi pun ingin membangunkan Galih.

Bibi                                           : (terkejut, melihat Galih tergeletak di lantai). “Ya Allah mengapa kamu tidur di lantai?” (sambil membangunkan Galih)
Galih                                        :”Aghhhhhhhhhhhhhh hantu……………” (sambil berlarian menuju ke luar)
Bibi                                           :”Galih, ini saya bibi. Bukan hantu” (berlari kecil mengejar Galih)
Galih                                        : (sadar bahwa itu bibi, Galih langsung berhenti larinya). “Bibi tadi malam ada hantu, tak kira itu bibi namun ketika menoleh wajahnya hancur separo, matanya pun merah. Aku pun lari menuju kamar Bi”.
Bibi                                           : “Oh gitu, iya Lih. Saya juga merasakan hal yang sama. Terus terang saya juga ndak berani kalau membersihkan rumah sendirian. Makanya saya ngajak anak saya”.
Galih                                        :”Emang sebenarnya ada apa ya Bi?”
Bibi                                           :”Begini, dulu ketika kamu tinggal di Bogor. Ada perempuan yang ngekos sendirian di rumah ini. Karena ada suatu masalah, tiba-tiba selang 7 hari perempuan itu gantung diri di kamar tersebut. Sampai sekarang bibi juga belum tahu permasalahannya kok bisa gantung diri. Papamu tidak cerita karena kamu masih kecil Galih”.
Galih                                        :”Oh gitu ya Bi, kita harus ngundang Ustad yang ada di daerah ini sekalian warga sekitar untuk mendoakan arwah perempuan itu supaya di terima di sisi Allah SWT”.
Bibi                                           :”Iya Papa dan Mama Galih harus diberi tahu dulu ya”.
Galih                                        :”Ok.. besok rumah ini harus ada selamatan ya Bi”. (sambil menelepon Papa dan Mamanya memberi kabar tentang peristiwa ini)
                                                 
Esok hari ustadz dan warga sekitar menghadiri acara selamatan bersama di rumah tersebut. Dan akhirnya rumah yang ditempati Galih tidak ada hantu perempuan yang menampakkan lagi.